WARU,- Anak-anak adalah aset paling berharga bagi setiap orang tua. Orang tua sering memiliki harapan tinggi terhadap anak mereka agar mereka menjadi orang yang sukses. Banyak orang tua telah resah tentang berita pelecehan seksual terhadap anak dalam beberapa tahun terakhir. Pelecehan seksual terhadap anak dapat terjadi di luar rumah, di dalam rumah, atau bahkan di sekolah. Teman, orangtua, saudara, dan guru juga dapat melakukannya. Anak seringkali tidak tahu apakah tindakan mereka termasuk pelecehan seksual atau tidak. Anak merupakan generasi penerus bangsa, sudah selayaknya mendapatkan hak – hak dan kebutuhan – kebutuhan secara memadai. Mereka bukanlah objek (sasaran) tindakan tidak manusiawi dari siapapun atau pihak manapun.
Untuk itu Pemerintah Desa Waru bersama dengan Puskesmas Slogohimo memberikan sosialisasi kessehatan "Tubuhku" dengan tema Mengenal Bagian Pribadi Anggota Badan yang diikuti oleh Siswa/Siswi Kelas 4,5,6 dari SD Negeri 1 Waru dan SD Negeri 2 Waru. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Waru pada hari Jumat, 28 November 2025. dr Medika Putri sekalu narasumber dalam kegiatan ini memaparkan materi secara menyenangkan kepada siswa dan siswi serta sesi tanya jawab, serta upaya dalam mengurangi pelecehan seksual pada anak usia dini. Salah satu bentuk upaya dalam mengurangi dampak pelecehan seksual pada anak usia dini yaitu dengan menampilkan video pembelajaran menjaga privasi tubuh. Dengan mengadakan kegiatan berupa pemutaran video pembelajaran dan gerakan bagian mana yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh.
Wisnu Sejati, Kepala Desa Waru dalam sambutannya menyampaikan bahwasanya kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah desa dalam rangka mencegah tindakan yang tidak diinginkan terhadap anak-anak dengan memberikan edukasi atau pendidikan sejak dini berkaitan dengan bagian privasi tubuh, mengingat beberapa kejadian pelecehan seksual terhadap anak-anak yang ada di Kabupaten Wonogiri dan Kecamatan Slogohimo pada khususnya sehingga perlunya penanggulangan yang serius. Beliau juga menambahkan bahwasanya kekerasan seksual terhadap anak ialah tindakan secara sengaja yang dapat memicu efek negatif pada fisik dan mental anak. Pelaku kadang-kadang melakukan tindakan fisik pada korbannya, yang berdampak negatif pada kesehatan mentalnya.
“Jadi setelah nanti mendapatkan materi dari Ibu Dokter, harapan kami kepada anak-anak sekolah dasar ini paham mana bagian pribadi atau privasi anggota badan dan dapat disebarluaskan pengetahuan ini, serta bisa waspada kalau ada teman atau orang dewasa yang mereka baru temui atau kenal, anak-anak jadi tahu batasan dan seandainya disentuh bagian tubuh dan berani mengatakan tidak, serta bisa berteriak untuk mengantisipasinya, apalagi dalam beberapa kasus yang ada itu pelaku memberikan iming-iming uang atau jajanan untuk bertindak yang tidak diinginkan” ucap Wisnu Sejati.
“Bagian tubuh pribadi lain seperti mulut, dada, pantat, kemaluan tidak boleh sentuh oleh orang sembarangan. Jadi kita harus tahu dan memiliki kesadaran terhadap tubuh pribadi, serta apa yang harus dilakukan anak ketika orang lain membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan mengetahui bahwa area pribadi tidak boleh disentuh atau dilihat orang lain, anak dapat menghargai batasan-batasan saat beraktivitas dengan orang lain, dan juga dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan si kecil. Jadi, kalau ada orang lain yang memegang empat area pribadi itu, anak bisa tahu kalau itu sesuatu yang keliru dan perlu dilaporkan pada orangtua.” ucap dr Medika Putri.
Dengan sosialisasi kesehatan mengenal bagian pribadi anggota badan yang ditanamkan sejak dini, anak akan mampu belajar membentengi dirinya dari kejahatan seksual, mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri, kepercayaan diri serta kepribadian yang sehat serta bersama-sama kita bentuk lingkungan yang aman bagi anak. ts